Headlines News :
JL.Kh.Ahmad Dahlan Sulawesi Tenggara
Head Office:0401-3190381

Kecamatan Kecamatan Di Muna

Kecamatan Katobu :
Luas wilayah sebesar 12.88 km2.
Potensi unggulan : bidang pariwisata, pertambangan, pertanian/perkebunan, peternakan, kehutanan, kelautan/perikanan dan berbagai macam kerajinan rakyat.

Kecamatan Tongkuno :
Luas wilayah sebesar 515.91 km2 dan merupakan kecamatan dengan luas wilayah terbesar di Kab. Muna. Potensi unggulan : sektor pariwisata, pertambangan, petanian/perkebunan, peternakan, kehutanan, kelautan dan perikanan serta kerajinan rakyat.

Kecamatan Batalaiworu :
Luas wilayah sebesar 22.71 km2.
Potensi unggulan : bidang pariwisata, pertambangan, pertanian/perkebunan, peternakan, kehutanan, kelautan/perikanan, dan berbagai macam kerajinan rakyat

Kecamatan Duruka :
Lluas wilayah sebesar 11.52 km2.
Potensi unggulan : bidang pariwisata, pertambangan, pertanian/perkebunan, peternakan, kehutanan, kelautan/perikanan, dan berbagai macam kerajinan rakyat.

Kecamatan Lohia :
Luas wilayah sebesar 49.81 km2. Kecamatan ini berjarak 18 km dari Ibukota kabupaten yang dapat ditempuh dengan kendaraan darat dalam waktu tempuh ± 3/4 menit.
Beberapa potensi unggulan yang terdapat pada daerah ini yaitu: sektor pariwisata, pertambangan, petanian/perkebunan, peternakan, kehutanan, kelautan dan perikanan serta kerajinan rakyat.
Pada Sektor pariwisata kecamatan ini menawarkan keindahan pantai Napabale di Desa Lohia yang kemudian terkenal sebagai salah satu icon wisata Kabupaten Muna, selain itu terdapat pula jenis wisata air lainnya diantaranya wisata Danau Motonuno dan Wisata Bahari Meleura yang keduanya terdapat di Desa Lakarinta. Wisata alam lain yang juga menarik untuk dikunjungi adalah wisata budaya Mesjid Tua Lohia di Desa Wabintingi dan Wisata Gua Liangkobori Desa Liangkobori (kedua tempat in merupakan sisa-sisa peninggalan peradaban masa lampau yang masih tetap ada dan dilestarikan sampai dengan saat ini).
Sektor Pertambangan yang terdapt pada kecamatan ini yaitu, Batu Gunung Batu Kapur, Dan Pasir di Desa Lohia dan Lakarinta.
Pada sektor Pertanian/perkebunan, tanaman yang terdapat didaerah ini sebagian besar berupa tanaman jangka panjang yaitu palawija, jambu mete, kopi dan kakao serta kelapa dan kapuk.
Sektor Peternakan didaerah ini, berupa perkembangbiakan Sapi, kambing dan ayam kampung.
Hutan jati, hutan bakau dan hutan tanaman rakyat merupakan beberapa tanaman hutan yan terdapat di Kecamatan ini. Sektor ini beberapa diantaranya merupakan hasil budidaya masyarakat yang
bekerjasama dengan pemerintah setempat dalam program usaha bersama masyarakat dan pemerintah dalam mengatasi pemanasan global.
Pada sektor kelautan dan perikanan masyarakat membudidayakan pengolahan Rumput laut (Desa wabintingi, Lohia, dan Desa Lakarinta).
Terdapat banyak Kerajinan rakyat yang dapat dijumpai di daerah ini diantaranya :Tenunan Sarung Muna, Anyaman Nentu, Anyaman Bambu, Pembuatan kasur, dan Meubel.

Kecamatan Lawa :
Kecamatan Lawa ini memiliki luas wilayah sebesar 260.72 km2, kecamatan ini berjarak 25 km dari Ibukota kabupaten dan dapat ditempuh dengan kendaraan darat dalam waktu tempuh ± 1 Jam.
Kecamatan ini memiliki berbagai macam Potensi alam unggulan diantaranya pada bidang pariwisata, pertambangan, pertanian/perkebunan, peternakan, kehutanan, kelautan/perikanan dan berbagai macam kerajinan rakyat yang menjadi sumber penghasilan masyarakat setempat.
Potensi alam sektor pariwisata diantaranya yang menjadi andalan dan dapat dijadikan sebagai tempat wisata air yang menarik adalah permandian Kaachi di Lakanaha, permandian Wakante di Latugho. Untuk wisata sejarah di kecamatan ini terdapat pula Benteng Lakauale di Latompe dan Benteng Lapadaku di Madampi.
Potensi alam yang merupakan sektor Pertambangan, di daerah ini terdapat banyak batu gunung dan batu kapur.
Kehidupan masyarakat di kecamatan Lawa banyak bergantung pada sektor pertanian dan perkebunan. Tanaman jagung da jambu mete merupakan jenis yang menjadi prioritas masyarakat dalam bercocok tanam. tanaman lain yang juga diolah diantaranya : kacang tanah, ubi kayu, ubi jalar, kakao, lada, kopi, rambutan, langsat, dan jeruk.
Pada sektor Peternakan, hewan ternak yang dikembangbiakkan adalah sapi, kambing dan ayam.
Tanaman kayu jati alam, jati putih, sengon, ketapang, dan kemiri adalah jenis-jenis tanaman hutan yang terdapat di kecamatan ini.
Pada sektor kelautan dan perikanan masyarakat membudidayakan Ikan mas yang terdapat di Wakante Desa Latugho dan Desa Lakanaha.
Di Kecamatan Lawa kerajinan rakyat yang sangat terkenal adalah anyaman keranjang dari Nentu di Desa lindo, Anyaman Tikar dari Rotan di Desa Lindo dan Anyaman Nyiru di Desa Lakanaha.

Kecamatan Kabawo :
Kecamatan Kabawo memiliki luas wilayah sebesar 249.89 km2, dengan jarak 40 km dari Ibukota kabupaten.Kecamatan ini dapat ditempuh dengan kendaraan darat dalam waktu tempuh ± 1 jam.
Berbagai sektor potensi unggulan terdapat pula pada daerah ini. Sektor-sektor tersebut meliputi sektor pariwisata, pertambangan, pertanian/perkebunan, peternakan, kehutanan, kelautan/perikanan dan sektor kerajinan rakyat.
Pada sektor pariwisata misalnya. kecamatan ini memiliki keindahan wisata alam dan tempat-tempat sejarah. Wisata alam yang dapat dijumpai didaerah ini yaitu Kambawuna, Danua Lawula Moni, Mata Air Oe Balano, Mata Air Ghase, serta bangunan-bangunan peninggalan masa lalu yang masih tetap berdiri kokoh seperti Benteng Wasidakari, Situs Kontumere dan Benteng Lakampare.
Pada sektor pertambangan, tedapat Bahan Galian C (Batu Kapur) dan Batu Bata (tanah Liat).
Sektor pertanian/perkebunan di Daerah ini, tanaman masyarakat didominasi oleh tanaman jangka panjang berupa jambu mete, cokelat, kelapa, kopi. Namun sebagian masyarakat juga memilih untuk bersawah dan bercocok tanam dengan jenis tanaman lain seperti palawijah, jeruk merica, dan tanaman buah rambutan.
Masyarakat juga memilih sektor peternakan sebagai alternative lain dalam meningkatkan pendapatan keluarga. Hewan yang dikembangbiakkan berupa Sapi, kambing dan Ayam Kampung.
Pada sektor kehutanan, tanaman Jati tetap menjadi tanaman yang banyak terdapat di sebagian besar Daerah Kabupaten Muna, tak terkecuali di Kecamatan ini. selain itu banyak pula berbagai macam tumbuhan Kayu Rimba yang oleh masyarakat dijadikan sebagai bahan bangunan dan bahan bakar rumah tangga.
Di sektor perikanan di Kecamatan ini terdapat banyak tambak masyarakat di Daerah Kawite-wite. Usaha tambak tersebut bukan hanya dimiliki oleh masyarakat setempat namun juga oleh masyarakat Kabupaten Muna yang berdomisili di Kecamatan lain.
Terdapat banyak kerajinan rakyat yang dihasilkan oleh masyarakat setempat diantaranya, Anyaman Nentu dan Rotan, Kasur, Meubel dan Tenunan Sarung Tradisional.

Kecamatan Sawerigadi :
Kecamatan Sawerigadi memiliki luas wilayah sebesar 102.60 km2, kecamatan ini memiliki berbagai macam Potensi alam unggulan diantaranya pada bidang pariwisata,pertambangan, pertanian/perkebunan, peternakan, kehutanan, kelautan/perikanan,
dan berbagai macam kerajinan rakyat yang menjadi sumber penghasilan masyarakat setempat.

Kecamatan Kabangka :
Luas wilayah sebesar 123.14 km2.
Potensi unggulan : pariwisata, pertambangan,
pertanian/perkebunan, peternakan, kehutanan, kelautan/perikanan dan berbagai macam kerajinan rakyat yang menjadi sumber penghasilan masyarakat setempat.

KecamatanTikep :
Luas wilayah sebesar 94.10 km2. Kecamatan ini memiliki berbagai macam Potensi alam unggulan diantaranya pada bidang pariwisata,pertambangan, pertanian/perkebunan, peternakan, kehutanan, kelautan/perikanan, dan berbagai macam kerajinan rakyat yang menjadi sumber penghasilan masyarakat setempat.

Kecamatan Tiworo Tengah :
Luas wilayah sebesar 128.07 km2. Kecamatan ini memiliki berbagai macam Potensi alam unggulan diantaranya pada bidang pariwisata, pertambangan, pertanian/perkebunan, peternakan, kehutanan, kelautan/perikanan,
dan berbagai macam kerajinan rakyat yang menjadi sumber penghasilan masyarakat setempat.

Kecamatan Maginti :
Luas wilayah sebesar 107.55 km2. Kecamatan ini memiliki berbagai macam Potensi alam unggulan diantaranya pada bidang pariwisata, pertambangan, pertanian/perkebunan, peternakan, kehutanan, kelautan/perikanan,
dan berbagai macam kerajinan rakyat yang menjadi sumber penghasilan masyarakat setempat.

Kecamatan Parigi :
Luas wilayah Kecamatan ini mencakup 134.78 km2. kecamatan ini memiliki berbagai macam Potensi alam unggulan diantaranya pada bidang pariwisata, pertambangan, pertanian/perkebunan, peternakan, kehutanan, kelautan/perikanan, dan berbagai macam kerajinan rakyat.

Kecamatan Bone :
Luas wilayah sebesar 142.77 km2. Potensi alam unggulan di kecamatan ini diantaranya pada bidang pariwisata, pertambangan, pertanian/perkebunan, peternakan, kehutanan, kelautan/perikanan, dan berbagai macam kerajinan rakyat.

Kecamatan Kusambi :
Luas wilayah 143.19 km2 dengan jarak 24 km dari ibu kota kabupaten yang dapat ditempuh dalam waktu ± 1 jam dengan menggunakan kendaraan darat.
Potensi unggulan yang menjadi andalan Kecamatan Kusambi meliputi sektor pariwisata, pertambangan, Partanian/Perkebunan, Peternakan, Kehutanan, Kelautan dan Perikanan serta Kerajinan Rakyat.
Pada sektor Pariwisata Kec. Kusambi mengandalkan Fasilitas Bandara Sugi Manuru dan pelestarian Budaya Asli Muna (tari Linda, Pukul Gong, Kalego, Ewa Wuna, dll).
Sektor pertambangan yang cukup potensial adalah tambang Galian Golongan C seperti kapur, pasir dan batu.
Perkebunan Jambu Mete merupakan perkebunan terbesar yang diolah oleh masyarakat di Kec. Kusambi dengan luas areal sebesar 938 Ha disusul perkebunan jagung sebesar 418 Ha dan perkebunan ubi kayu seluas 110 Ha. Jenis perkebunan lainnya adalah Kakao (98 Ha), Kelapa (45 Ha), Kacang Tanah (31 Ha) dan Lada (10 Ha).
Pemeliharaan sapi dan kambing menjadi andalan Sektor Peternakan selain pemeliharaan ayam buras, ayam potong, ayam kampung dan itik. Saat ini terdapat 3.655 ekor sapi dan 235 ekor kambing.
Sektor Kehutanan mendatangkan devisa yang cukup signifikan dengan adanya hasil hutan berupa kayu jati.
Pada sektor kelautan dan perikanan terdapat kegiatan pemeliharaan aneka jenis ikan laut, kepiting (lobster), udang dan rumput laut.
Kerajinan Rakyat yang menjadi primadona Kec. Kusambi adalah industri kecil dan batu bata serta tenunan kain adat Muna.

Kecamatan Kontunaga :
Luas Wilayah 50,88 km2, jarak dengan Ibukota Kabupaten 11 km dengan waktu tempuh ± 1/2 jam dengan menggunakan kendaraan darat.
Dari segi Pariwisata, yang menjadi unggulan yaitu Batu Berbentuk Naga, Kuburan Purbakala (Kuburan Wa Lao dan Moloku) yang terletak di puncak Kontunaga (yang kemudian menjadi asal muasal nama kecamatan) serta Batu berupa papan. Batu Gunung Cadas dan Batu Kapur merupakan hasil pertambangan Kecamatan ini.
Pada sektor Pertanian/Perkebunan mengandalkan jagung (418 Ha),kacang tanah (31 Ha) dan Jambu Mete (938 Ha). Sektor lain yang menjadi sumber penghasilan masyarakat adalah Kayu Jati dan Peternakan Sapi yang jumlah keseluruhannya mencapai 3655 ekor. kerajinan rakyat antara lain Tenunan kain Adat Muna dan Anyaman Kerajinan Rumah Tangga.

Kecamatan Watopute :
Luas wilayah sebesar 96.12 km2. Kecamatan ini memiliki berbagai macam Potensi alam unggulan diantaranya pada bidang pariwisata, pertambangan, pertanian/perkebunan, peternakan, kehutanan, kelautan/perikanan,
dan berbagai macam kerajinan rakyat yang menjadi sumber penghasilan masyarakat setempat.

Kecamatan Napabalano :
Luas wilayah sebesar 176,32 km2, kecamatan ini berjarak 30 km dari Ibukota kabupaten yang dapat ditempuh dengan kendaraan darat dalam waktu tempuh
± 0,5 jam.
Potensi alam unggulan di kecamatan ini diantaranya pada bidang pariwisata, pertambangan, pertanian/perkebunan, peternakan, kehutanan, kelautan/perikanan, dan berbagai macam kerajinan rakyat.
Potensi alam pada sektor pariwisata adalah keindahan pasir putih yang terletak di pantai napabalano
Potensi alam yang merupakan sektor Pertambangan, berupa Batu gamping cural(CM) serta alufium dan endapan pantai (CAR).
Tak beda jauh dengan kecamatan - kecamatan lain yang berada di Kabupaten Muna, Kecamatan Napabalano juga terdapat banyak jambu mete dan umbi-umbian di sektor pertanian/perkebunan.
Pada sektor Peternakan, hewan ternak yang dikembangbiakkan adalah sapi, kambing, dan ayam potong.
Pada sektor kehutanan, tanaman yang dilestarikan adalah cagar alam (pohon jati tertua).
Pada sektor kelautan dan perikanan masyarakat membudidayakan agar - agar(rumput laut),ikan, kepiting, dan lobster.
Kerajinan rakyat yang menjadi sumber penghasilan yang cukup besar bagi masyarakatdi kecamatan ini adalah pembuatan kayu gembol.

Kecamatan Lasalepa :
Luas wilayah sebesar 107.92 km2, kecamatan ini berjarak 14 km dari Ibukota kabupaten yang dapat ditempuh dengan kendaraan darat dalam waktu tempuh ± 15 menit.
Berbagai macam Potensi alam unggulan Kecamatan ini diantaranya pada bidang pariwisata,pertambangan, pertanian/perkebunan, peternakan, kehutanan, kelautan/perikanan, dan berbagai macam kerajinan rakyat.
Pada Sektor pariwisata kecamatan ini menawarkan keindahan Permandian pantai Topa yang terdapat dipesisir pantai.
Potensi alam yang merupakan sektor Pertambangan, di daerah ini terdapat Batu Gunung dan pasir Laut.
Pada sektor Pertanian/perkebunan, tanaman yang terdapat diadaerah ini sebagian besar berupa tanaman pangan diantaranya jagung, ui kayu, ubi jalar, dan sayur-sayuran serta tanaman jangka panjang yang merupakan hasil pendapatan masyarakat bermusim yaitu tumbuhan jambu mete dan kelapa.
Sektor Peternakan didaerah ini, berupa perkembangbiakan Sapi, kambimg dan ayam kampung.
Hutan jati, hutan bakau dan hutan tanaman rakyat merupakan beberapa tanaman hutan yan terdapat di Kecamatan ini. Sektor ini beberapa diantaranya merupakan hasil budidaya masyarakat yang
bekerjasama dengan pemerintah setempat dalam program usaha bersama masyarakat dan pemerintah dalam mengatasi pemanasan global.

Kecamatan Barangka :
Luas wilayah sebesar 33.09 km2. Kecamatan ini memiliki berbagai macam Potensi alam unggulan diantaranya pada bidang pariwisata, pertambangan, pertanian/perkebunan, peternakan, kehutanan, kelautan/perikanan, dan berbagai macam kerajinan rakyat.

Kecamatan Maligano :
Luas wilayah sebesar 157.62 km2. Kecamatan ini memiliki berbagai macam Potensi alam unggulan diantaranya pada bidang pariwisata, pertambangan, pertanian/perkebunan, peternakan, kehutanan, kelautan/perikanan, dan berbagai macam kerajinan rakyat.

Kecamatan Pasir Putih :
Luas wilayah sebesar 138.30 km2.
Kecamatan ini memiliki berbagai macam Potensi alam unggulan diantaranya pada bidang pariwisata, pertambangan, pertanian/perkebunan, peternakan, kehutanan, kelautan/perikanan, dan berbagai macam kerajinan rakyat.

Kecamatan Wakorumba Selatan :
Luas wilayah sebesar 104,86 km2, kecamatan ini berjarak 20 km dari Ibukota kabupaten dan dapat ditempuh dengan kendaraan darat dalam waktu tempuh ±1km.
kecamatan ini memiliki berbagai macam Potensi alam unggulan diantaranya pada bidang pariwisata, pertambangan, pertanian/perkebunan, peternakan, kehutanan, kelautan/perikanan, dan berbagai macam kerajinan rakyat.
Mata air Sangia Pure-pure merupakan potensi wisata air yang terdapat pada kecamatan ini.
Potensi alam yang merupakan sektor Pertambangan, di daerah ini terdapat Batu Aspal dan Batu kerikil kali.
Seperti pada kecamatan lain kehidupan masyarakat di kecamatan ini sebagian besar bergantung pada sektor pertanian dan perkebunan. Tanaman yang terdapat pada daerah ini yaitu jagung, jambu mete, coklat, kelapa/kopra, jagung kuning, dan padi gogo.
Pada sektor Peternakan, hewan ternak yang dikembangbiakkan adalah sapi, kambinG, ayam kampung dan itik.
Pada sektor kehutanan, berbeda dengan kecamatan lain yang ada di Kabapuaten Muna, masyarakat
Kecamatan Wakorumba Selatan atau yang dikenal dengan WAKORSEL, mengolah hasil hutan pada jenis pengolahan Rotan Batang, Rotan kecil, dan pengolahan Kayu Campuran.
Pada sektor kelautan dan perikanan masyarakat membudidayakan pengolahan Ikan kering atau lure(bahasa setempat), Penangkapan/penampungan kepiting, dan penangkapan/penampungan udang.
Kerajinan rakyat yang ada di kecamatan ini adalah penbuatan batu bata, Pembuatan minyak kelapa
pembuatan tahu/tempe, pembuatan batako, dan pembuatan mobiler.

Lihat map Pulau Muna di sini

Comments
0 Komentar dengan akun facebook